Ketika pertarungan selesai, Lynx berdiri di antara lawan-lawannya yang tergeletak tak berdaya. Sosoknya tegak, tenang, tanpa sedikit pun tanda kelelahan.

Di hadapannya, Rira berdiri dengan napas berat. Tangannya memegang sebuah pisau yang terbuat dari taring hewan, terlihat kasar namun mematikan. Matanya tetap menatap Lynx, tidak ada rasa takut di sana—hanya keengganan yang samar, seperti seseorang yang tahu dirinya kalah tetapi menolak menyerah.

Lynx melangkah maju selangkah, membuat Rira secara refleks mengangkat pisaunya, siap bertarung. Dia tidak bergerak mundur, meskipun dadanya naik-turun mencoba mengatur napas.

"Kau tahu," ujar Lynx dengan nada yang dingin, hampir terlalu tenang untuk situasi itu. "Kalau kau ingin ikut mencoba, aku tidak keberatan."

Rira menyipitkan matanya, menggenggam taring pisaunya lebih erat. "Aku tidak butuh izin darimu," jawabnya, suaranya tajam, penuh perlawanan. Tapi tubuhnya tetap diam, tidak meluncur menyerang. Dia tahu apa yang baru saja terjadi. Orang ini—bukan manusia biasa. Semua gerakan Lynx sebelumnya, kecepatannya, kekuatannya, adalah sesuatu yang bahkan di luar jangkauan petarung terbaik sukunya.

Meskipun begitu, Rira menegakkan tubuhnya lebih tinggi, berusaha menyembunyikan keraguan yang mulai menjalari pikirannya.

"Kenapa?" Lynx akhirnya bertanya, matanya memperhatikan Rira dengan cermat. "Kenapa kau mencuri senjataku?"

Rira menggertakkan giginya, tapi tidak menjawab seketika. Sebaliknya, ia menyelipkan pisaunya kembali ke sabuk kulit di pinggangnya dan menatap Lynx langsung.

"Aku tidak punya pilihan," katanya akhirnya, setiap kata terdengar seperti pisau yang menusuk harga dirinya sendiri. "Pimpinan mereka mengancam keluargaku. Ayahku diracun, lumpuh karenanya. Hanya mereka yang punya penawar."

"Ayahmu?" Lynx bertanya tanpa sedikit pun nada iba. "Dan kau pikir mencuri parangku akan menyelesaikan masalahmu?"

"Aku tahu parang itu bukan senjata biasa," balas Rira cepat. "Mereka menginginkannya saat melihat kamu memotong kayu dengan mudahnya dihutan."

Rira memalingkan wajahnya sedikit, mengembuskan napas tajam. "Mereka pikir kalian rombongan lemah... ternyata salah."

Lynx mendekat lagi, kali ini hanya beberapa langkah darinya. "Jadi kau mencuri senjataku, lalu bergabung dengan mereka?" Nadanya terdengar datar, tapi tekanan dalam suaranya cukup untuk membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat.

Rira menatap Lynx kembali, matanya penuh amarah dan rasa malu yang ia coba tutupi. "Aku tidak bergabung. Aku hanya—" Dia berhenti, rahangnya mengeras. "Aku tidak peduli apa yang kau pikirkan. Aku melakukan ini untuk keluargaku."

Lynx memperhatikan Rira selama beberapa detik, lalu menggeleng perlahan. "Kau kuat," katanya, membuat Rira sedikit terkejut. "Tapi kau membuang kekuatanmu pada keputusan bodoh."

Pernyataan itu seperti tamparan bagi Rira, tapi dia tidak membantah. Ia mengepalkan tinjunya, tampak bergulat dengan dirinya sendiri. "Aku sudah bilang, aku tidak punya pilihan," ulangnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Lynx.

Hening sejenak. Lalu, dengan suara yang lebih pelan tapi tetap tajam, dia menambahkan, "Maaf... aku mencuri parangmu." Kata-kata itu seperti keluar dengan paksa, seakan meminta maaf adalah hal paling sulit yang pernah dia lakukan.

Lynx mendekatinya, menatapnya dengan tenang. "Kau bagian dari suku Raksa?"

Rira mengangguk pelan. "Ya. Kami hanya keluarga kecil yang tersisa. Hidup kami hancur setelah serangan Monrest."

Lynx menyeringai tipis, lalu berbalik, melangkah ke arah tempat teman-temannya berada. "Kau bisa menebus kesalahanmu dengan menunjukkan di mana keluargamu."

"Apa maksudmu?" Tanya Rira sambil mengejar Lynx.

"Aku mengerti sedikit mengenai ilmu pengobatan. Aku akan mencoba melihat kondisi ayahmu dan mengobatinya. Tapi kita kembali dulu ke tempat tadi untuk menjemput kedua orang temanku" kata Lynx sambil berjalan.

Rira menatapnya dengan ragu, tapi kemudian mengangguk tegas. Dia mengikuti Lynx, tanpa banyak pertanyaan, hanya rasa penasaran apakah benar dia sanggup menyelamatkan ayahnya.

Setelah sampai di tempat mereka beristirahat sebelumnya, Rira kaget dan menahan tawanya melihat Narendra dan Kanha yang tertidur terikat diatas pohon.

Lynx yang awalnya ingin melepaskan mereka, muncul ide jahilnya dan membatalkan niatnya untuk melepaskan Narendra dan Kanha.

"Ceritakan lebih jauh tentang mereka dan suku Raksa," Lynx memberi perintah kepada Rira sambil duduk memandangi api unggun.

Rira menceritakan kondisi suka Raksa yang terpecah dan tersebar ke berbagai wilayah. "Orang-orang suku kami yang dewasa dan kuat, telah tewas saat pertempuran dengan suka Monrest. Sekarang hanya tersisa generasi muda dan orang tua. Mereka saling serang karena tidak adanya kepala suku yang mengatur."

"Suku Raksa terkenal kuat, kenapa kalian justru menjadi pencuri ?" Tanya Lynx.

Rira yang memiliki ego tinggi tidak menerima disebut pencuri, "Kamu tidak bisa menyalahkan kami..."

"Lynx! Tolong... Tolong lepaskan aku. Apa yang terjadi?" Tiba-tiba sebuah suara terdengar memutus kata-kata Rira yang belum selesai.

Narendra yang mulai sadar, merasa kaget saat menemukan dirinya terikat diatas pohon, dia memandang sekitar dan melihat Kanha terikat erat disampingnya. Namun dia segera merasa lega setelah melihat Lynx berada di bawahnya.

Lynx melangkah maju. Dalam satu gerakan luwes, ia melompat ke cabang pohon dan dengan cekatan memotong tali yang mengikat Narendra dan Kanha.

"Lynx!" seru Narendra, masih sedikit bingung. "Apa yang terjadi? Kenapa aku diikat di atas pohon?"

"Kau tidur terlalu lelap," jawab Lynx singkat sambil turun dari pohon. Lynx kemudian menceritakan sekilas kejadian yang telah terjadi, sehingga Narendra terlihat kebingungan dan berusaha memahami.

Narendra melangkah maju, menatap Lynx. "Kita tidak bisa meninggalkannya. Kita harus membantu." Katanya setelah mendengar cerita Rira.

Rira memandang Lynx. Terlihat wajah ragu dan penasaran."Kamu sungguh bisa mengobati?"

Lynx menatap Rira, lalu berkata, "Kita lihat nanti seperti apa penyakitnya."

"Aku paham sedikit mengenai ilmu pengobatan meski tidak terlalu tahu mengenai racun. Tapi kita akan mencobanya," lanjutnya.

Rira merasa bersemangat dan mendapat harapan ayahnya dapat disembuhkan, sehingga dia menyetujui permintaan Lynx untuk menemui ayahnya.

Keesokan paginya, mereka berangkat menuju rumah Rira yang tersembunyi di dalam hutan. Sepanjang perjalanan, Narendra mengolok-olok Kanha yang tertidur nyenyak tanpa mengetahui apa yang sudah terjadi. Sepanjang perjalanan mereka, timbul keakraban dan kegembiraan karena tingkah laku Kanha.

Perjalanan itu memakan waktu beberapa jam, tetapi akhirnya mereka tiba di sebuah perkampungan kecil dengan beberapa rumah kayu yang sederhana.

Namun, kedatangan Lynx, Narendra, dan Kanha langsung disambut dengan rasa curiga. Beberapa remaja dan pria tua keluar dari rumah dengan membawa senjata.

"Rira, siapa mereka?" bentak salah satu pria, wajahnya penuh ketidakpercayaan.

"Mereka bukan musuh," jawab Rira tegas. "Mereka keluargaku—keluarga jauh."

Seorang pria yang lebih tua melangkah maju. "Keluarga jauh? Kau membawa orang asing ke sini? Apa kau lupa apa yang terjadi terakhir kali kita mempercayai orang asing?"

Rira berdiri di depan Lynx, melindunginya dengan tubuhnya. "Aku tahu apa yang kulakukan. Mereka menyelamatkanku, dan mereka berjanji akan membantu ayahku."

"Apa kamu sebodoh itu bisa di bohongi pria ini? Dia hanya memanfaatkan dirimu." Pria tua mengingatkan.

Rira mengepalkan tangannya dan berkata dengan marah,"Ini urusanku. Aku tidak seperti kalian yang hanya bisa bicara tetapi tidak berbuat apa-apa."

Pria-pria itu masih tampak ragu, tetapi akhirnya menurunkan senjata mereka. Lynx melangkah maju.

"Di mana ayahmu?" tanya Lynx dengan nada serius, memandang Rira.

Rira tanpa ragu membawa Lynx ke sebuah rumah kecil di sudut desa. Lynx melangkah masuk, diikuti Narendra dan Kanha yang berdiri berjaga di pintu. Di dalam, seorang pria tua terbaring lemah di atas tikar anyaman. Tubuhnya kurus, kulitnya terlihat pucat dengan warna keabuan, dan nafasnya terdengar berat dan tersendat-sendat.

"Benar! Dia diracun," kata Lynx setelah memeriksa denyut nadi pria itu. Ia memeriksa mata dan lidahnya, terlihat jelas tanda-tanda tubuh yang sedang diracuni. Namun, Lynx tidak mengenali gejala racun apa yang digunakan.

"Bisakah kau menyelamatkannya?" tanya Rira, suaranya penuh harap. Matanya yang memerah menunjukkan rasa takut dan putus asa.

Lynx menatap pria itu dengan cermat. Ia ingat pernah menonton sebuah film sebelum terdampar di pulau ini, di mana seorang tokoh menyembuhkan orang lain dengan menyalurkan energi. Meski itu hanya fiksi, Lynx merasa terpanggil untuk mencoba sesuatu yang serupa.

"Dengarkan aku baik-baik," kata Lynx, menatap Rira dengan serius. "Aku tidak tahu pasti apa yang dilakukan racun ini. Tapi aku akan mencoba sesuatu."

Rira mengangguk tanpa ragu. "Lakukan apa pun yang bisa menyelamatkannya."

Lynx duduk di sisi pria tua itu, menutup matanya untuk berkonsentrasi. Ia meletakkan tangannya di dada pria itu, mencoba merasakan apa yang terjadi di dalam tubuhnya. Perlahan, ia mulai memfokuskan energinya. Tubuh Lynx mulai memanas, dan aliran energi mengalir masuk ketubuh pria tua itu.

"Lynx, apa yang kau lakukan?" tanya Narendra dari pintu, matanya melebar melihat pemandangan itu.

"Diam," kata Lynx tanpa membuka matanya.

Saat energinya mengalir ke tubuh pria tua itu, Lynx merasakan sesuatu yang aneh. Ada panas di dalam tubuh pria itu, panas yang berbeda, seperti bara api yang mendidih. Racun itu sepertinya bereaksi terhadap energi Lynx, menyebarkan gelombang panas yang semakin kuat.

Lynx menggertakkan giginya, mencoba menahan rasa sakit yang ia rasakan melalui telapak tangannya. "Ada sesuatu di dalamnya," gumamnya. "Aku harus mendorongnya keluar."

Ia meningkatkan fokusnya, menyalurkan energi lebih banyak lagi ke tubuh pria itu. Dalam sekejap, tubuh pria itu mengejang. Matanya terbuka lebar, dan ia batuk keras. Tiba-tiba, ia memuntahkan cairan hitam pekat yang berbau busuk.

Rira terlonjak mundur, menahan napas melihat cairan itu menetes ke lantai. Narendra menutup hidungnya, tampak terkejut.

"Ini racunnya," kata Lynx dengan suara pelan, menarik tangannya dari dada pria itu. Wajahnya sedikit berkeringat, tetapi ia terlihat lega.

Pria tua itu mulai bernapas lebih stabil, meskipun tubuhnya masih lemah. Lynx segera berdiri dan mengambil beberapa bahan dari kantongnya—akar, daun, dan rempah-rempah yang ia kumpulkan selama perjalanan.

"Aku tidak bisa memastikan dia sepenuhnya sembuh," kata Lynx sambil menghancurkan bahan-bahan itu di atas daun lebar. "Tapi ini akan memperkuat tubuhnya dan membantunya melawan sisa-sisa racun."

Dengan hati-hati, ia merebus bahan-bahan itu di atas api unggun kecil, mencampurnya hingga menjadi cairan kental berwarna coklat tua. Lynx menuangkannya ke dalam mangkuk dan memberikannya kepada Rira.


